Gennus.id | Jakarta -Presiden Prabowo Subianto sedang berbicara di hadapan ribuan pengusaha dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia yang dikumpulkan dalam Presidential Briefing. Agenda resminya adalah paparan kondisi global untuk kepentingan dunia usaha. Tapi yang keluar dari mulut Prabowo bukan sekadar briefing ekonomi biasa. (31/7) Istana Negara.
“Sore tiap malam kita lihat dalam berita-berita eskalasi, eskalasi, eskalasi. Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir. Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirat juga mau punya senjata nuklir. Qatar juga mau punya senjata nuklir. Mesir juga mau punya senjata nuklir,” kata Prabowo.
Di tengah penyampaian pandangan geopolitik itulah siaran langsung yang disaksikan banyak orang tiba-tiba berhenti. Cuplikan video saat siaran terputus menyebar cepat di berbagai platform media sosial dan memicu beragam spekulasi dari warganet.
Namun perlu dicatat satu fakta penting: pidato Prabowo sesungguhnya berlanjut dan rekaman lengkapnya tersedia di kanal YouTube resmi Sekretariat Presiden. Tidak ada indikasi bahwa isi pidato dihapus atau dihentikan secara sengaja. Terputusnya siaran di beberapa platform yang diamati warganet kemungkinan besar adalah gangguan teknis, meskipun hingga saat ini belum ada penjelasan resmi dari pihak Istana maupun Sekretariat Presiden tentang penyebab spesifiknya.
Kembali ke substansi pidato, apa yang Prabowo sampaikan layak mendapat perhatian tersendiri. Ia menggambarkan dunia yang sedang dalam jalur eskalasi konflik yang tidak mudah dihentikan. Menurutnya, konflik di Timur Tengah bukan semata soal ideologi atau agama — melainkan dipicu perebutan sumber daya strategis: gas, minyak, dan mineral. “Perang di Timur Tengah itu kenapa? Karena di sana banyak gas, banyak minyak,” katanya.
Ia juga mengingatkan tentang politik devide et impera yang menurutnya bukan hanya catatan sejarah, melainkan masih berjalan nyata hari ini. “Devide et impera bukan tulisan di buku-buku sejarah, itu nyata,” kata Prabowo. Ia mengingatkan bahwa negara-negara besar kerap menciptakan perpecahan di antara negara lain demi kepentingan mereka sendiri.
Pesan yang ia titipkan kepada para pengusaha menjadi penutup yang cukup berat untuk sebuah acara Kadin: “Situasi global sangat rawan, tapi tidak ada gunanya kita panik, tidak ada gunanya kita ketakutan. Tapi juga membuat kita lebih sadar, bertindak, bertutur kata harus penuh kearifan, harus penuh kebaikan. Kita harus waspada. Kita negara sangat besar, kita negara sangat kaya. Hukum alam, kekayaan menimbulkan iri.”
Konteks pernyataan Iran soal nuklir penting untuk dipahami: Prabowo menyampaikannya sebagai gambaran persepsi yang beredar di dunia, bukan sebagai pernyataan resmi pemerintah Indonesia tentang status nuklir Iran. Indonesia secara konsisten mendukung non-proliferasi nuklir dan penyelesaian damai konflik internasional melalui diplomasi.(Rls/Red)



















