GENNUS.ID | Kabupaten Bakasi – Tindakan medis yang seharusnya dapat mengatasi rasa sakit yang diderita pasien justru berubah menjadi tragedi yang mengerikan bagi Lilis Sumarnah. Lilis sudah menjalani operasi cabut gigi pada 23 Desember 2025. Ia mengaku mengalami sejumlah cedera pasca operasi, mengeluhkan adanya kebocoran di bagian kepala, lebam pada mata, hingga patah tulang klavikula (selangka).
Edison,SH dan Heri Susanto,SH,MH,C.Me. Kuasa hukum Lilis Sumarnah, secara tegas menyatakan bahwa kejadian ini merupakan indikasi kuat adanya kelalaian dan berasumsi ini malpraktik medis.
“Klien kami masuk untuk operasi gigi, tapi keluar dengan kondisi patah tulang (Selangka), kepala bocor serta mata lebam Ini sangat tidak masuk akal secara medis. Kami menduga ada prosedur yang menyimpang atau kejadian fisik yang terjadi saat klien kami tidak sadarkan diri, “ujar Edison, SH kepada wartawan (13/1).
Edison menambahkan,”Kalau pihak rumah sakit mempunyai itikad baik selesai secara musyawarah. Tapi kalau tidak, kita tindak lanjuti dengan pidana dan gugat perdata,” tegasnya.
Adapun kronologi kejadian bermula saat Lilis menjalani operasi cabut gigi di RS Hermina Grand Wisata di Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, (23/12/2025). Lilis masuk ruang operasi, menjalani prosedur operasi cabut gigi namun, pasca operasi cabut gigi tersebut Lilis justru malah mengalami luka-luka yang mengerikan pada bagian tubuh yang tidak berhubungan dengan tindakan medis tersebut. Pihak keluarga terkejut dengan kondisi fisik Ĺilis yang memperihatinkan.


Ditemukan adanya luka lebam hebat di bagian mata, luka kebocoran di bagian kepala, hingga patah tulang di bagian patah tulang klavikula (selangka), tentunya dengan kondisi Lilis seperti itu, menimbulkan tanda tanya besar, mengingat prosedur medis yang dijalankan seharusnya hanya fokus pada area gigi maupun mulut. Adanya luka fisik di area kepala, mata lebam dan patah tulang (klavikula). menunjukkan adanya kejadian yang tidak wajar.
“Saya berada di bawah pengaruh obat bius (anastesi), pada saat di dalam ruang perawatan kata,” Lilis dalam keterangannya kepada awak media, sambil merasakan teroma pasca operasinya. Ia sangat sedih dan kecewa teryata rumah sakit yang di pilihnya justru memberikan rasa teroma yang mendalam
Heri Susanto, SH, MH, C.Me.l, mengatakan bahwa saat ini tim nya sedang mengumpulkan bukti-bukti pendukung untuk menuntut pertanggungjawaban pihak rumah sakit.
“Kami menuntut transparansi. Bagaimana mungkin operasi gigi mengakibatkan patah tulang? Kami melihat ada unsur kelalaian yang membahayakan nyawa pasien,”pungkasnya.
Keterangan tersebut sedikit meredam spekulasi yang berkembang, meskipun masih belum dapat diverifikasi secara resmi. Namun hingga informasi ini dirilis. Awak media belum berhasil mendapatkan keterangan resmi dari pihak RS Hermina.
Upaya menghubungi pihak rumah sakit belum menghasilkan tanggapan dan sikap tertutup dari pihak rumah sakit ini semakin menimbulkan tanda tanya, sehingga status pasti terkait dugaan malpraktik medis masih tetap terbuka untuk spekulasi.
(Red)





















