JAKARTA – GENNUS.ID | Belasan orang menjadi korban penipuan berkedok lowongan kerja di Penggilingan Jakarta Timur. korban dimintai sejumlah uang mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah dengan iming-iming pekerjaan sebagai Security di PT KAI & Trans Jakarta.
Hal ini diungakapkan Darmanto, salah satu korban yang tertipu oleh inisial AKML alias “Jo”. Kepada awak media, Darmanto mengatakan, pelaku menawarkan lowongan pekerjaan sebagai Security di PT. KAI jurusan Yogyakarta – Jakarta & Cleaning Service, dan Ia dimintai uang sebesar 700 ribu rupiah oleh pelaku sebagai administrasi awal, dengan janji langsung diterima kerja.
“Kita saling kenal, karena saya menyewa lapak miliknya untuk memarkirkan kendaraan Bajaj saya, kemudian AKML alias Jo ini menawarkan pekerjaan jadi security dengan sangat meyakinkan. Karena saya melihat dia itu kan orang berada dan punya banyak usaha, jadi saya percaya saja,” ucap Darmanto kepada tim awak media (4/3).
“Kebetulan saat itu saya habis jual bajaj, dan anak saya yang Sulung lagi butuh pekerjaan, dan karena sudah percaya saya kasih saja uangnya sebesar 700 ribu diawal, dan dia pun memberi arahan untuk mengurus segala macam kelengkapan lamaran kerjanya, ”jelas Darmanto.
Hal ini terus berlanjut sampai beberapa bulan, pelaku selalu meminta tambahan uang secara perlahan dengan alasan mengurus berkas dan menunggu slot antrian. Setelah ditotal-total oleh Darmanto uang yang sudah Ia berikan kepada pelaku mencapai Rp 7 juta rupiah.
Selanjutnya korban lainnya bernama Urip, Ia juga mendapatkan tawaran dari pelaku AKML alias Jo dengan modus dan janji yang sama. Sebelum nya Urip mendapat informasi ini dan Ia juga menyampaikan hal ini via Group WhatsApp RT di lingkungannya, hingga akhirnya banyak yang ikut mendaftar.
Dalam keterangan nya Urip menjelaskan kepada tim awak media, “Awalnya saya kenal AKML karena sering mengantar Gas LPG ke warung Ibunya. Dia menawarkan lowongan kerja di Trans Jakarta yang katanya lagi butuh banyak orang. Makanya saya langsung share ke Grup WhatsApp RT, alhasil banyak yang ikut mendaftar,” ujar Urip.
Tidak main-main, pelaku AKML menggunakan surat kontrak palsu berlogo Trans Jakarta yang entah darimana diperolehnya untuk melancarkan aksinya. Kemudian meminta uang sebesar 150 ribu – 350 ribu kepada belasan korban tersebut.
“Kita dikasih semacam surat kontrak kerja gitu, ada logo Trans Jakarta nya, terus dimintai uang ADM diawal. Karena meyakinkan, kita kasih aja.” tambah Urip, mewakili belasan korban lainnya.
Perlahan namun pasti, aksi pelaku terus berjalan sepanjang tahun 2025 dan terus menambah korban.
Sampai akhirnya para korban mulai resah dan sadar, lalu memutuskan ke rumah pelaku untuk meminta ganti rugi. Namun alih-alih mendapatkan pertanggung jawaban, justru keluarga pelaku diduga seakan menutup-nutupi keberadaannya.
Hingga berita ini diterbitkan, pelaku belum bisa dijumpai. Tim awak media akan terus mengawal agar para korban mendapat kepastian dan pertanggung jawaban dari pelaku atau pihak keluarganya.(Red)





















