ADVERTISEMENT
  • Home 2
  • Indonesia Hari Ini
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, September 17, 2026
Gennus.id
  • Login
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Mancanegara
  • Entertainment
    Viral Riders Alphard Fajar Sadboy, Amanda Manopo Tegaskan: Bohong Semua

    Viral Riders Alphard Fajar Sadboy, Amanda Manopo Tegaskan: Bohong Semua

    Usai “Mens Rea” Pandji, Coki–Tretan Hadirkan Humor Ringan Libatkan Gibran

    Usai “Mens Rea” Pandji, Coki–Tretan Hadirkan Humor Ringan Libatkan Gibran

  • TNI Polri
    • All
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Peristiwa
    Rida Ratna Kogoya Bantu Rp40 Juta untuk 13 Calon Wisudawati Kebidanan di Wamena

    Rida Ratna Kogoya Bantu Rp40 Juta untuk 13 Calon Wisudawati Kebidanan di Wamena

    Sebanyak 98 Kepala Sekolah Resmi Dilantik Thomas Amirico, Kadisdik Provinsi Lampung

    Sebanyak 98 Kepala Sekolah Resmi Dilantik Thomas Amirico, Kadisdik Provinsi Lampung

    TPA Geluga Cibungbulang Kabupaten Bogor Kebakaran

    TPA Geluga Cibungbulang Kabupaten Bogor Kebakaran

    Lebih dari Sepekan Kasus Tewasnya Pedagang Cermin Belum Tertangkap?

    Lebih dari Sepekan Kasus Tewasnya Pedagang Cermin Belum Tertangkap?

    Detik-detik Video Amatir Penggerebekan: Oknum Perangkat Desa D R K S Diduga Berselingkuh di Kosan Kedawung, Cirebon

    Detik-detik Video Amatir Penggerebekan: Oknum Perangkat Desa D R K S Diduga Berselingkuh di Kosan Kedawung, Cirebon

    Detik-detik Jembatan Gantung Ambruk Saat Diresmikan Bupati Pangandaran

    Detik-detik Jembatan Gantung Ambruk Saat Diresmikan Bupati Pangandaran

    “Dia Enggak Tahu Apa-Apa!” Pedagang Cermin Dibawa Keluar Gang lalu Dikeroyok hingga Tewas Saat Demo DPR Ricuh

    “Dia Enggak Tahu Apa-Apa!” Pedagang Cermin Dibawa Keluar Gang lalu Dikeroyok hingga Tewas Saat Demo DPR Ricuh

    Tak Mau Melepas Hijab, Asma Wafa Andina Pilih Mundur dari Calon Kadet Putri Fakultas Kedokteran Militer Universitas Pertahan RI

    Tak Mau Melepas Hijab, Asma Wafa Andina Pilih Mundur dari Calon Kadet Putri Fakultas Kedokteran Militer Universitas Pertahan RI

    Geger! Warga Curug Dengdeng Temukan Bayi Perempuan di Depan Teras Rumahnya

    Geger! Warga Curug Dengdeng Temukan Bayi Perempuan di Depan Teras Rumahnya

    Perum Leticia Buni Bhakti Kabupaten Bekasi Meriahkan HUT RI Ke-81 Tahun dengan Lomba Futsal, Piala Ketua RT

    Perum Leticia Buni Bhakti Kabupaten Bekasi Meriahkan HUT RI Ke-81 Tahun dengan Lomba Futsal, Piala Ketua RT

    Trending Tags

    • Golden globes
    • Climate Change
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Daerah
  • Hukum Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Mancanegara
  • Entertainment
    Viral Riders Alphard Fajar Sadboy, Amanda Manopo Tegaskan: Bohong Semua

    Viral Riders Alphard Fajar Sadboy, Amanda Manopo Tegaskan: Bohong Semua

    Usai “Mens Rea” Pandji, Coki–Tretan Hadirkan Humor Ringan Libatkan Gibran

    Usai “Mens Rea” Pandji, Coki–Tretan Hadirkan Humor Ringan Libatkan Gibran

  • TNI Polri
    • All
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Peristiwa
    Rida Ratna Kogoya Bantu Rp40 Juta untuk 13 Calon Wisudawati Kebidanan di Wamena

    Rida Ratna Kogoya Bantu Rp40 Juta untuk 13 Calon Wisudawati Kebidanan di Wamena

    Sebanyak 98 Kepala Sekolah Resmi Dilantik Thomas Amirico, Kadisdik Provinsi Lampung

    Sebanyak 98 Kepala Sekolah Resmi Dilantik Thomas Amirico, Kadisdik Provinsi Lampung

    TPA Geluga Cibungbulang Kabupaten Bogor Kebakaran

    TPA Geluga Cibungbulang Kabupaten Bogor Kebakaran

    Lebih dari Sepekan Kasus Tewasnya Pedagang Cermin Belum Tertangkap?

    Lebih dari Sepekan Kasus Tewasnya Pedagang Cermin Belum Tertangkap?

    Detik-detik Video Amatir Penggerebekan: Oknum Perangkat Desa D R K S Diduga Berselingkuh di Kosan Kedawung, Cirebon

    Detik-detik Video Amatir Penggerebekan: Oknum Perangkat Desa D R K S Diduga Berselingkuh di Kosan Kedawung, Cirebon

    Detik-detik Jembatan Gantung Ambruk Saat Diresmikan Bupati Pangandaran

    Detik-detik Jembatan Gantung Ambruk Saat Diresmikan Bupati Pangandaran

    “Dia Enggak Tahu Apa-Apa!” Pedagang Cermin Dibawa Keluar Gang lalu Dikeroyok hingga Tewas Saat Demo DPR Ricuh

    “Dia Enggak Tahu Apa-Apa!” Pedagang Cermin Dibawa Keluar Gang lalu Dikeroyok hingga Tewas Saat Demo DPR Ricuh

    Tak Mau Melepas Hijab, Asma Wafa Andina Pilih Mundur dari Calon Kadet Putri Fakultas Kedokteran Militer Universitas Pertahan RI

    Tak Mau Melepas Hijab, Asma Wafa Andina Pilih Mundur dari Calon Kadet Putri Fakultas Kedokteran Militer Universitas Pertahan RI

    Geger! Warga Curug Dengdeng Temukan Bayi Perempuan di Depan Teras Rumahnya

    Geger! Warga Curug Dengdeng Temukan Bayi Perempuan di Depan Teras Rumahnya

    Perum Leticia Buni Bhakti Kabupaten Bekasi Meriahkan HUT RI Ke-81 Tahun dengan Lomba Futsal, Piala Ketua RT

    Perum Leticia Buni Bhakti Kabupaten Bekasi Meriahkan HUT RI Ke-81 Tahun dengan Lomba Futsal, Piala Ketua RT

    Trending Tags

    • Golden globes
    • Climate Change
No Result
View All Result
Gennus.id
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Opini

Tragedi Rp1.200 per Kilogram: Jeritan Petani Sawit di Balik Dinding Ambisi Ekspor Satu Pintu

Oleh: Tandiesak Parinding (Petani Sawit Mandiri, Mamuju Tengah / Eks Pengurus Pusat GMKI)

Redaksi by Redaksi
24 Mei 2026
in Opini, Daerah
0
Diduga Langgar Izin dan Cemari Lingkungan, Mahasiswa Bogor Utara Siap Kepung PT Mortar Indonesia
8
VIEWS
Share on FacebookShare on WhatsApp

Gennus.id | Mamuju Tengah – Kebijakan ekonomi yang megah di atas kertas sering kali bertransformasi menjadi momok menakutkan saat menyentuh realitas akar rumput. Pengumuman mendadak dari Presiden terkait tata kelola ekspor komoditas strategis satu pintu melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), adalah contoh nyata.

Di satu sisi, argumen pemerintah terdengar heroik: menyelamatkan devisa, memberantas manipulasi pajak (*under-invoicing*), dan merebut daya tawar harga (*pricing power*) minyak sawit mentah (CPO) di panggung dunia. Namun, di sisi lain, eksekusi yang prematur tanpa petunjuk teknis (juknis) ini justru memicu kepanikan pasar (*market panic*) yang seketika menghantam aktor paling rentan dalam rantai pasok ini: petani sawit mandiri.

RELATED POSTS

Warga Mengadu, Media Bertanya, PLN Minta Surat, Di Mana Keterbukaan Pelayanan Publik?

Menyepak Purbaya Bisa Menjadi “Gol Bunuh Diri” Prabowo

Sejak kebijakan ini dilempar ke publik, harga tender CPO domestik langsung anjlok dari kisaran Rp15.300/kg menjadi Rp12.150/kg hanya dalam hitungan hari. Akibatnya, pabrik kelapa sawit (PKS) mengambil langkah aman (*hedging*) dengan memangkas harga beli tandan buah segar (TBS) petani. Penurunan ini kemudian diamplifikasi secara brutal oleh para penimbang dan tengkulak di tingkat tapak.

Fakta paling menyakitkan terjadi di sentra-sentra sawit luar Sumatera dan Kalimantan. Di Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat, misalnya, harga jual TBS di tingkat petani mandiri ke tengkulak saat ini hancur lebur hingga menyentuh angka Rp1.200 sampai Rp1.400 per kilogram. Angka ini merupakan sebuah penghinaan terhadap keringat petani karena nilai tersebut sudah berada di bawah biaya pokok produksi minimum. Bagi petani mandiri dengan kepemilikan lahan skala kecil (1–2 hektare), amblesnya harga hingga ke titik nadir ini bukan sekadar angka statistik makro, melainkan sebuah bencana finansial yang nyata.

Kebutaan Logika “Orang Desa Tidak Pakai Dolar”

Beberapa waktu lalu, sebuah kelakar politik sempat terlontar dari ruang publik bahwa masyarakat pedesaan tidak perlu risau dengan fluktuasi mata uang asing karena sehari-hari tidak bertransaksi menggunakan dolar AS. Sungguh sebuah anekdot yang tidak peka sekaligus buta terhadap anatomi ekonomi modern dan teori transmisi harga internasional.

Masyarakat di Mamuju Tengah memang berbelanja menggunakan rupiah, tetapi struktur biaya hidup mereka hari ini telah sepenuhnya terintegrasi dengan dinamika global. Berdasarkan data indeks harga konsumen sektor konstruksi, harga bahan bangunan—seperti semen, besi beton, dan baja ringan—telah melambung tinggi akibat kenaikan biaya logistik global dan harga energi. Petani sawit tidak hidup di ruang isolasi yang kebal dari inflasi. Ketika pendapatan mereka dari TBS merosot tajam hingga tersisa Rp1.200/kg akibat kebijakan sepihak pemerintah, sementara biaya hidup di desa terus meroket, di situlah letak jeritan riil yang gagal ditangkap oleh radar para pengambil kebijakan di Jakarta.

Ironi Diskriminasi Pupuk dan Kebijakan Asimetris

Kondisi petani sawit mandiri saat ini berada dalam stadium “terjepit dari segala penjuru”. Kelapa sawit adalah komoditas emas, komoditas perkebunan penyumbang devisa terbesar bagi kas negara. Namun ironisnya, lewat regulasi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 10 Tahun 2022, negara secara diskriminatif mencoret kelapa sawit dari daftar komoditas yang berhak menerima pupuk bersubsidi.

Petani mandiri di daerah dipaksa bertarung di pasar bebas untuk membeli pupuk nonsubsidi—seperti NPK Mutiara, urea nonsubsidi, dan KCL—yang harganya mencekik leher, mencapai Rp500.000 hingga Rp700.000 per karung, atau hampir lima kali lipat dari harga pupuk subsidi komoditas pangan lain. Secara agronomis, kelapa sawit membutuhkan pemupukan berkala untuk menjaga buah tetap produktif. Dilema pertanian pun terjadi: jika kelapa sawit tetap dipupuk dengan harga mahal di tengah harga TBS yang hanya Rp1.200/kg, biaya operasional (*cost of production*) petani dipastikan mengalami defisit besar (*nombok*). Namun, jika pemupukan dihentikan, tonase panen akan merosot drastis akibat fenomena buah “landak” dan merusak produktivitas pohon untuk 2–3 tahun ke depan.

Jebakan Kredit Bank dan Ancaman Likuiditas Rumah Tangga

Kondisi ini kian berdarah karena struktur pembiayaan di pedesaan saat ini sangat bergantung pada sektor perbankan. Demi meningkatkan taraf hidup—membangun rumah layak huni di desa, membiayai pendidikan tinggi anak, hingga melakukan peremajaan (*replanting*) mandiri—banyak petani di Sulawesi Barat meminjam modal ke bank, baik KUR maupun komersial, dengan menjaminkan sertifikat tanah atau rumah mereka.

Kalkulasi awal para petani sangat rasional: dengan asumsi harga TBS stabil di batas psikologis Rp3.000–Rp3.500/kg, pendapatan dari lahan 1–2 hektare sangat *feasible* untuk memenuhi rasio pembayaran utang bulanan. Namun, begitu kebijakan ekspor tanpa juknis ini diumumkan dan menciptakan ketidakjelasan prosedur PT DSI, pabrik membatasi pembelian dan tengkulak memangkas harga hingga Rp1.200/kg. Hancurlah arus kas domestik petani. Cicilan bank bersifat tetap (*fixed cost*) dan tidak mengenal kompromi terhadap blunder kebijakan pemerintah, sehingga risiko sita aset dan kebangkrutan massal kini menghantui pedesaan Mamuju Tengah.

Solusi Teknis dan Rekomendasi Kebijakan bagi Pemerintah

Nasionalisme ekonomi untuk merebut kontrol perdagangan CPO dari bursa luar negeri adalah cita-cita yang mulia. Namun, kedaulatan tidak boleh dibangun di atas penderitaan jutaan petani swadaya yang menguasai sekitar 41% dari total luas tutupan sawit nasional. Pemerintah wajib segera mengambil langkah-langkah mitigasi darurat berikut:

1. Percepat Regulasi Turunan (Juknis) PT DSI
Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan harus merilis aturan teknis ekspor PT DSI dalam hitungan hari. Kepanikan pasar terjadi karena kekosongan regulasi teknis mengenai tarif jasa (*fee*), mekanisme kliring pembayaran, dan kepastian dokumen ekspor pada masa transisi Juni–Agustus 2026. Kejelasan ini akan memulihkan aktivitas ekspor dan menyerap kembali stok CPO di pabrik.

2. Penegakan Aturan Harga TBS dan Operasi Pasar Khusus
Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat dan Satgas Pangan harus turun langsung ke Kabupaten Mamuju Tengah. Selisih harga antara ketetapan resmi pemerintah dan harga di tingkat tengkulak (Rp1.200–Rp1.400) sudah terlampau jauh dan mengindikasikan adanya praktik spekulasi sepihak yang memanfaatkan kepanikan aturan BUMN ini. PKS yang dengan sengaja mempermainkan harga beli harus diberikan sanksi administratif tegas.

3. Instruksikan Restrukturisasi Kredit Khusus Petani Sawit
Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus segera menerbitkan regulasi relaksasi—serupa kebijakan restrukturisasi era pandemi—yang memerintahkan bank Himbara (BRI, Mandiri, dan BNI) untuk memberikan moratorium penundaan pokok cicilan atau perpanjangan tenor bagi petani sawit mandiri selama fase transisi sistem ekspor baru ini.

4. Reorientasi Dana BPDPKS untuk Subsidi Pupuk Petani Swadaya
Dana triliunan rupiah yang dihimpun oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dari pungutan ekspor (*export levy*) selama ini dinilai tidak adil karena mayoritas dialokasikan untuk insentif biodiesel (B35/B40) yang dinikmati korporasi besar. Pemerintah harus meredistribusi dana tersebut menjadi program subsidi pupuk spesifik lokasi atau bantuan sarana produksi langsung bagi petani mandiri dengan luas lahan di bawah 2 hektare.

Penutup: Kedaulatan yang Tak Boleh Menggilas Rakyat

Nasionalisme ekonomi dan ambisi berdaulat atas harga CPO global adalah cita-cita yang mulia, namun ia akan kehilangan maknanya jika dibangun di atas reruntuhan ekonomi rakyat kecil. Pemerintah harus menyadari bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa besar devisa yang diparkir di PT Danantara Sumberdaya Indonesia, melainkan dari seberapa tegak punggung para petani di Mamuju Tengah dan seluruh pelosok negeri dalam menafkahi keluarganya.

Membiarkan petani mandiri bertarung sendirian melawan fluktuasi harga Rp1.200/kg di tengah kepungan harga pupuk yang “selangit” dan tagihan bank yang “tanpa ampun” adalah bentuk pengabaian negara yang nyata. Kita tidak boleh terjebak dalam paradoks yang menyedihkan: menjadi produsen sawit terbesar di dunia, namun membiarkan petaninya menjadi penonton yang paling menderita di tanahnya sendiri.

Angka-angka kemiskinan baru di pedesaan adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar demi sebuah eksperimen birokrasi yang prematur. Sebelum PT DSI melangkah lebih jauh untuk mendikte bursa internasional di Rotterdam atau Kuala Lumpur, pemerintah wajib memberesi “halaman rumahnya” sendiri: memulihkan kepercayaan pasar, menstabilkan harga TBS di tingkat tapak, dan memberikan proteksi konkret bagi petani mandiri. Jangan sampai ambisi raksasa untuk menguasai dolar dunia justru menjadi martil yang menghancurkan impian sederhana seorang petani untuk sekadar melunasi cicilan rumah dan menyekolahkan anaknya.

Daulat pangan dan daulat ekonomi harus dimulai dari kedaulatan di atas meja makan para petani kita.

Pewarta: Fadly

Tags: KalimantanSawitSentraSumatera
Redaksi

Redaksi

Related Posts

Warga Mengadu, Media Bertanya, PLN Minta Surat, Di Mana Keterbukaan Pelayanan Publik?

Warga Mengadu, Media Bertanya, PLN Minta Surat, Di Mana Keterbukaan Pelayanan Publik?

by Redaksi
16 September 2026
0

Gennus.id | Bogor - Keluhan masyarakat soal gangguan listrik belum menemukan kepastian. Setelah Aliansi Empat Pilar menyampaikan langsung persoalan spanning,...

Menyepak Purbaya Bisa Menjadi “Gol Bunuh Diri” Prabowo

Menyepak Purbaya Bisa Menjadi “Gol Bunuh Diri” Prabowo

by Redaksi
15 September 2026
0

Gennus.id | Jakarta - Makin seru saja cerita disepaknya Purbaya dari istana. Luar biasa tanggapan netizen, apalagi pengikut Partai Koptagul,...

Bupati Bogor Minta Warga Kawal Proses Hukum Kasus Mafia Tanah Pasca Penggeledahan Kantor BPN

Bupati Bogor Minta Warga Kawal Proses Hukum Kasus Mafia Tanah Pasca Penggeledahan Kantor BPN

by Redaksi
15 September 2026
0

Gennus.id | Kabupaten Bogor - Bupati Bogor Rudy Susmanto menegaskan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor menghormati proses hukum terkait penggeledahan Kantor...

Kasus Hidup Lagi! Jokowi Gagal Lindungi Ahmad Ali

Kasus Hidup Lagi! Jokowi Gagal Lindungi Ahmad Ali

by Redaksi
14 September 2026
0

Gennus.id | Jakarta - Kemarin Budi Arie, sekarang Ahmad Ali. Dua wajah Jokowi bisa tercoreng. Projo dan PSI. Keduanya juga...

FWJ Indonesia Apreasi Respon Cepat Sudin LH Jakarta Timur,Atas Aduan Masyarakat Sampah Menggunung di TPS Ujung Menteng RW 07

FWJ Indonesia Apreasi Respon Cepat Sudin LH Jakarta Timur,Atas Aduan Masyarakat Sampah Menggunung di TPS Ujung Menteng RW 07

by Redaksi
14 September 2026
0

Gennus.id | Jakarta Timur - Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Timur melalui Satuan Pelaksana (Satpel) LH Kecamatan Cakung...

Next Post
TNI-AD Berhasil Amankan 2.000 Batang Ganja di Pegunungan Bintang “Terima Penghargaan”

TNI-AD Berhasil Amankan 2.000 Batang Ganja di Pegunungan Bintang "Terima Penghargaan"

TNI-AD Berhasil Amankan 2.000 Batang Ganja di Pegunungan Bintang “Terima Penghargaan”

Ditempa Dua Abad Sebelum Pajajaran Runtuh, Siapa Pembuat Mahkota Binokasih Sumedang Larang?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED

Gakkum Kementrian Kehutanan Telusuri Rantai Getah Pinus TNGC dan PT EMB, GMOCT-LPKRI-SBI Siap Kawal hingga Tuntas

Gakkum Kementrian Kehutanan Telusuri Rantai Getah Pinus TNGC dan PT EMB, GMOCT-LPKRI-SBI Siap Kawal hingga Tuntas

17 September 2026
Tempe Berjamur Diduga Sebabkan Keracunan Siswa, Matahukum Desak BGN Tutup Dapur Sepatan Pisangan 2

Tempe Berjamur Diduga Sebabkan Keracunan Siswa, Matahukum Desak BGN Tutup Dapur Sepatan Pisangan 2

17 September 2026

© 2026 Gennus - Website by D-IT Development.

Navigate Site

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

No Result
View All Result
  • Redaksi
  • Homepages
    • Homepage Layout 1
    • Homepage Layout 2
  • Politik
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Mancanegara
  • Hukum Kriminal
  • Entertainment
  • Seni Budaya
  • Pendidikan
  • TNI Polri
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Food

© 2026 Gennus - Website by D-IT Development.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In