Gennus.id | Jakarta – Kehadiran motivator dan pengusaha asal Amerika Serikat, Tony Robbins, dalam acara Konsolidasi Nasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memunculkan beragam pertanyaan di tengah masyarakat.
Tony Robbins memang dikenal sebagai salah satu pembicara motivasi paling terkenal di dunia. Ia memiliki rekam jejak panjang dalam dunia pengembangan diri dan bisnis, bahkan disebut memiliki tarif ratusan ribu hingga jutaan dolar AS untuk sekali tampil dalam sebuah seminar.
Namun pertanyaan yang muncul bukanlah soal siapa Tony Robbins, melainkan apa urgensi kehadirannya dalam program yang dibiayai uang rakyat dan sedang menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Publik tentu menghormati hak pemerintah untuk mengundang siapa pun sebagai narasumber. Akan tetapi, ketika program MBG masih menghadapi berbagai persoalan mulai dari tata kelola, efektivitas pelaksanaan, hingga dugaan penyimpangan anggaran yang menjadi sorotan publik, kehadiran seorang motivator internasional justru menimbulkan tanda tanya besar.
Apakah yang dibutuhkan saat ini adalah motivasi, atau justru transparansi?
Apakah yang diperlukan adalah seminar inspirasi, atau evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program?
Rakyat tidak sedang kekurangan kata-kata penyemangat. Yang mereka butuhkan adalah kepastian bahwa setiap rupiah uang negara benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat, bukan untuk membangun citra atau menciptakan panggung seremonial yang megah.
Lebih jauh, sebagian publik menilai kehadiran tokoh kelas dunia dalam acara pemerintah berpotensi menimbulkan kesan bahwa simbol dan pencitraan lebih diutamakan daripada penyelesaian persoalan substantif. Apalagi ketika masih banyak sekolah, fasilitas kesehatan, dan pelayanan publik yang membutuhkan perhatian serius.
Jika tujuan utama MBG adalah meningkatkan kualitas gizi anak bangsa, maka ukuran keberhasilannya bukanlah seberapa terkenal tamu yang hadir di atas panggung, melainkan seberapa banyak anak yang benar-benar menerima manfaat program secara tepat sasaran, berkualitas, dan bebas dari praktik penyimpangan.
Dalam situasi ekonomi yang menuntut efisiensi dan akuntabilitas, pemerintah perlu menyadari bahwa publik kini semakin kritis. Setiap kegiatan yang melibatkan tokoh besar, seremoni megah, maupun agenda yang dianggap tidak berkaitan langsung dengan pelayanan masyarakat akan selalu dipertanyakan manfaat dan urgensinya.
Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan pertunjukan motivasi. Rakyat membutuhkan bukti. Bukan kata-kata inspiratif, melainkan hasil nyata. Bukan panggung yang gemerlap, melainkan kebijakan yang efektif, transparan, dan berpihak kepada kepentingan publik.
Versi ini lebih tajam, kritis, dan menggugah, tetapi tetap berada dalam koridor opini yang aman serta tidak menuduh adanya pelanggaran tanpa bukti.(tim/red)
#SuaraKritikTajam&PedasRakyatDemiKebaikanKeutuhanKRIPemujaTololBalasStempelKebencian&Pemecahan SertaBerbauSara





















