Gennus.id | Jakarta – Pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ulta Levenia Nababan mengenai rangkaian gempa dan erupsi gunung api di Indonesia menuai sorotan publik.
Ulta mempertanyakan apakah erupsi enam gunung api yang terjadi dalam periode berdekatan sepenuhnya merupakan fenomena alam atau ada faktor lain di baliknya. Ia mengaku dirinya skeptis dan mengakui pemikirannya tersebut bisa dianggap sebagai teori konspirasi.
Dalam unggahannya, Ulta bahkan menyebut dirinya sampai pada kesimpulan pribadi bahwa “73,5%” ada sesuatu yang “diorkestrasi”. Ia juga mengaitkan pemikirannya dengan proyek HAARP yang selama ini kerap muncul dalam berbagai teori konspirasi terkait cuaca, gempa, hingga bencana alam.
Pernyataan tersebut kemudian ramai dikritik warganet. Sejumlah komentar mempertanyakan dasar ilmiah dari dugaan tersebut dan mengingatkan pentingnya merujuk pada data geologi, vulkanologi, serta mitigasi bencana.
Di sisi lain, materi yang beredar juga menegaskan bahwa belum terdapat bukti ilmiah kredibel yang menunjukkan HAARP dapat memicu gempa atau erupsi gunung api. Aktivitas vulkanik pada enam gunung tersebut dijelaskan sebagai dinamika vulkanik yang berdiri sendiri.
Perdebatan pun berkembang: apakah pernyataan tersebut sekadar bentuk sikap skeptis dan pertanyaan pribadi, atau justru berisiko membuat publik menganggap teori konspirasi sebagai fakta?(Rls/Red)





















