Gennus.id | Jakarta – Beberapa negara baru saja mengumumkan dukungan penuh untuk Maritime Defense Alliance (atau Multinational Maritime Defense Alliance). Slogan resminya elegan banget: “Together for safer seas.” Kedengarannya damai, sopan, dan penuh semangat kolektif. Tapi di balik senyum diplomatik itu, ada aroma satire yang tajam.
Dipimpin Arab Saudi, aliansi ini digagas di Riyadh akhir Juli lalu. Empat belas negara langsung angkat tangan: Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, Yaman (pemerintah yang diakui), Bangladesh, Nigeria, Sudan, Djibouti, dan Somalia. Markasnya di Riyadh. Tujuannya? Melindungi jalur pelayaran di Laut Merah, Bab al-Mandab, dan Teluk Aden. Kebebasan navigasi, perdagangan internasional, pasokan energi—semua dibungkus dengan bahasa hukum internasional yang sangat sopan.
Secara bijaksana, ini langkah cerdas. Ancaman Houthi yang didukung Iran lagi naik daun, kapal dagang diganggu, blokade digembar-gemborkan. Daripada menunggu “penjaga laut global” yang lagi sibuk di tempat lain (baca: Selat Hormuz dan drama AS–Iran), negara-negara ini memutuskan: yuk kita jaga sendiri. Collective strength, kata mereka. Kedaulatan bersama di laut.
Tapi satire-nya menusuk halus: di saat AS dan Iran masih saling lempar pernyataan soal buka-tutup Hormuz, di Laut Merah muncul aliansi baru yang isinya mayoritas negara Muslim, tanpa Amerika Serikat sebagai anggota inti. UEA sendiri belum masuk daftar pendiri. Israel jelas di luar. Jadi ini bukan sekadar “bersama untuk laut yang lebih aman”. Ini juga pesan diam-diam: kami bisa urus rumah tangga laut kami sendiri, tanpa harus terus menunggu lampu hijau dari Washington atau takut bayangan Teheran.
Absurd savagenya? Semua bilang “defensif murni, tidak menarget siapa pun”. Sopan sekali. Padahal konteksnya jelas: ada pihak yang lagi main kartu blokade dan rudal di laut. Aliansi ini seperti payung kolektif yang dibuka di tengah hujan rudal, sambil bilang “kami cuma pengin tetap kering dan dagang lancar”.
Jadi ringkasannya per 4 Agustus: sementara di Hormuz masih drama saling bantah antara Trump dan Iran, di Laut Merah muncul klub baru yang lebih regional, lebih mandiri, dan sangat elegan dalam membungkus kepentingan strategis. Kerja sama? Ada. Kekuatan kolektif? Ada. Tapi di balik senyum “safer seas”, tetap ada perhitungan kedaulatan yang tajam dan sangat manusiawi. Klasik geopolitik 2026: semua ingin laut aman, tapi masing-masing tetap bawa jangkar sendiri.(Rls/Red)
Sumber: Hagia Sofia





















