GENNUS.ID | JAKARTA – Kairo menjadi saksi sejarah peresmian BRICS Literature Award yang digelar pertama kali pada akhir Januari tahun 2026. Penghargaan sastra bergengsi tersebut secara resmi diserahkan pada tanggal dua puluh empat Januari di Hall Internasional Pameran Buku Kairo.
Direktur Eksekutif Penghargaan BRICS Aleksander Okstovich menyerahkan piala didampingi Vadim Terekhin serta Koordinator BRICS Mesir yaitu Douha Mostafa. Dua sastrawan terpilih sebagai pemenang melalui proses seleksi berlapis lintas benua yang melibatkan dewan juri profesional dari tingkat internasional.
Salwa Bakr merupakan sastrawan terkemuka asal Mesir yang menulis dalam bahasa Arab dan telah melahirkan banyak karya novel hebat. Karya miliknya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia termasuk sejumlah bahasa Eropa karena memiliki suara perempuan yang sangat jujur.
Penghargaan khusus inovasi bidang sastra diberikan kepada Denny JA atas kontribusinya mengembangkan puisi esai yang memadukan riset serta empati. Vadim Terekhin menegaskan penganugerahan ini merupakan sinyal penting bahwa sastra negara BRICS menjadi bagian tidak terpisahkan budaya global.
“Penghargaan kepada Salwa Bakr dan Denny JA menjadi awal perjalanan panjang serta bermakna menuju pengakuan luas panggung sastra dunia,” kata dia. Nama Denny JA dikenal luas sebagai konsultan politik yang memenangkan pemilihan presiden lima kali berturut-turut dengan kekayaan yang melimpah.
Namun di luar jabatan Denny JA memilih jalur sunyi sastra sebagai pencipta genre puisi esai yang kini melintasi batas. “Seluruh dana penghargaan tersebut didonasikan sepenuhnya untuk pengembangan sastra dunia dan disalurkan melalui lembaga resmi bernama Denny JA Foundation,” ucap dia.
Keputusan mendonasikan dana bertujuan memastikan sastra terus hidup bereksperimen serta tetap berpihak pada nilai kemanusiaan bagi seluruh masyarakat. Sastri Bakry mewakili Denny JA membacakan pidato penerimaan karena sang penulis sedang menghadiri agenda penting di World Economic Forum.
“Berbicara di Mesir berarti berbicara di rahim peradaban manusia yang mengajarkan umat manusia tentang cara untuk mengatur sebuah makna,” ucapnya. Ia mengingatkan tulisan lahir bukan semata mencatat peristiwa melainkan menjaga ingatan agar melampaui batas satu usia manusia saja.
“Jangan biarkan Hadiah Nobel menjadi satu-satunya kompas sastra dunia. Karena ketika satu pusat mendefinisikan segalanya keseimbangan menjadi sangat rapuh,” ucap dia. Sastra bukanlah kerajaan nilai yang diperintah dari satu kutub peradaban melainkan percakapan tanpa pusat bagi setiap keindahan jiwa manusia.
“BRICS Literature Award hadir bukan untuk menggulingkan Nobel melainkan melengkapinya dengan menawarkan kompas baru yang lebih beragam dan adil,” ucap dia. Donasi seluruh dana ini menegaskan sikap bahwa sastra merupakan ekosistem bersama yang harus dirawat dipelihara serta diwariskan secara baik.
“Sastra hidup bukan karena sebuah penghargaan tetapi karena ada yang memilih untuk memberi bukan sekadar menyimpan untuk diri sendiri,” katanya. Pesan sederhana dari Kairo ini mengingatkan dunia bahwa nilai sebuah tulisan terletak pada keberanian untuk berbagi kepada sesama manusia.
(Red)





















