Gennus.id | Jakarta – Pakar militer dari King’s College London, Andreas Krieg, baru-baru ini menyoroti bagaimana Iran mampu mengimbangi kekuatan raksasa dunia. Kuncinya bukan pada jumlah pesawat tempur, melainkan Ketahanan Nasional Total.
Apa yang dilakukan Iran sama dengan yang dilakukan Indonesia saat ini. Dengan segala keterbatasan, Indonesia punya aset yang jauh lebih besar dari sekadar anggaran militer: Geografi dan Rakyat.
Meskipun secara anggaran militer terpaut jauh dari Amerika Serikat, Iran membuktikan bahwa kecerdikan strategi bisa melumpuhkan kekuatan finansial dan teknologi lawan.
Jika kita bedah lebih dalam, ada beberapa titik temu strategis antara Iran dan Indonesia yang membuat keduanya menjadi target yang sangat sulit ditaklukkan (“hard target”):
1. Strategi Kelautan: Kapal Cepat vs Kapal Induk. Iran menggunakan doktrin “Swarming Tactics” (Taktik Keroyokan). Mereka tahu tidak mungkin menandingi kapal induk AS dengan kapal yang sepadan. Maka, mereka mengerahkan ratusan kapal cepat rudal (Fast Attack Craft) yang murah dan lincah.
Kesamaan dengan Indonesia: Indonesia memiliki ribuan selat sempit. Konsep Kapal Cepat Rudal (KCR) produksi PT PAL sangat cocok dengan medan kita. Menghadapi satu kapal besar di selat sempit dengan puluhan KCR yang menyerang dari berbagai arah jauh lebih efektif daripada mengandalkan satu fregat besar.
2. Pertahanan Berlapis (Layered Defense)
Iran membangun kekuatan rudal dari jarak pendek hingga antarbenua (seperti yang baru saja mereka tunjukkan dengan jangkauan 4.000 km ke Diego Garcia).
Strategi Indonesia: Indonesia kini mulai membangun pertahanan berlapis. Mulai dari pembelian jet tempur Rafale untuk air superiority, hingga sistem pertahanan udara jarak menengah dan jauh. Bedanya, Indonesia lebih menekankan pada “interkoneksi” antar matra (Darat, Laut, Udara) agar musuh tidak bisa masuk ke ruang kedaulatan kita dengan mudah.
3. Ketahanan Domestik terhadap Embargo
Iran telah “kenyang” dengan sanksi ekonomi selama puluhan tahun, yang justru memaksa industri dalam negeri mereka (terutama dirgantara dan rudal) mandiri.
Kemandirian Indonesia: Indonesia pernah mengalami embargo militer AS pada era 90-an hingga awal 2000-an. Hal ini menjadi titik balik bagi PT Pindad, PT PAL, dan PT DI untuk mulai memproduksi amunisi, panser Anoa, hingga kapal perang secara mandiri. Strategi “Hilirisasi” yang sekarang digalakkan juga merupakan bentuk pertahanan ekonomi agar bahan mentah kita tidak mudah dimainkan oleh pasar global saat konflik.
4. Benteng Alami dan Geopolitik. Iran memiliki pegunungan Zagros yang menjadi benteng alami dari serangan darat. Indonesia memiliki “benteng laut” berupa ribuan pulau.
Analisis: Jika musuh ingin menginvasi daratan Indonesia, mereka harus melewati ribuan pulau kecil yang masing- masing bisa berfungsi sebagai pangkalan gerilya atau titik peluncuran rudal pantai. Ini akan sangat melelahkan dan menguras biaya logistik musuh.
5. Kohesi Sosial dan Psikologi Massa. Seperti yang Anda sebutkan, Iran sangat keras terhadap infiltrasi ideologi asing. Masyarakatnya memiliki kebanggaan nasional yang sangat tinggi.
Nilai Indonesia: Indonesia memiliki doktrin Sishankamrata (Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta). Di mana saat perang terjadi, seluruh rakyat—bukan hanya TNI—menjadi bagian dari pertahanan. Kekuatan sosial melalui kearifan lokal dan gotong royong adalah aset yang tidak dimiliki oleh negara-negara Barat yang individualis.
6. Mengganggu pelayaran Internasional. Jika Iran menggunakan selat Hormuz untuk mencekik minyak dunia dan menekan sekutu AS. Indonesia lebih mematikan lagi, memegang kunci pintu dagang dunia. Indonesia memiliki empat chokepoint maritim global yang paling vital, yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar, yang semuanya diatur dalam ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia).
Menggunakan konsep Sishankamrata (Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta), Indonesia bisa mengerahkan nelayan dan pos-pos pengamatan di pulau-pulau kecil sepanjang ALKI. Mereka berfungsi sebagai mata dan telinga, yang jika diperlukan, bisa “mengganggu” logistik kapal dagang musuh tanpa perlu menggunakan rudal mahal. Cukup dengan menunda perjalanan satu kapal kontainer raksasa selama beberapa hari, kerugian ekonomi yang ditimbulkan bisa mencapai jutaan dolar.
Kesimpulannya. Apa yang dipraktikkan Iran adalah bukti bahwa “Kedaulatan tidak bisa dibeli, tapi harus dibangun secara mandiri.” Indonesia saat ini berada di jalur yang sama:
Kemandirian Pangan & Energi: Agar tidak bisa “dicekik” lewat sanksi ekonomi.
Kemandirian Industri Pertahanan: Agar tidak bergantung pada suku cadang asing saat perang.
Persatuan Nasional: Agar musuh tidak bisa melakukan devide et impera (adu domba).
Kunci kemenangan Iran bukan pada mengalahkan AS di medan terbuka, tapi pada kemampuan membuat musuh kehabisan uang, waktu, dan dukungan politik di negerinya sendiri karena perang yang tak kunjung usai. Begitupun dengan Indonesia yang dapat menggunakan strategi serupa untuk memenangkan perang.[]
Visi,Prabowo,PertahananNasional,SwasembadaPangan, HilirisasiStrategis,Indonesia.(Rls/Red)
Oleh: Hagia Sofia





















