GENNUS.ID, TAPANULI TENGAH – Tabir gelap di balik bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) mulai tersingkap. Kepolisian Resor Tapanuli Tengah memberikan sinyal kuat akan penetapan tersangka dalam kasus pembalakan liar (illegal logging) yang dituding sebagai pemicu utama kerusakan ekologis di wilayah tersebut.
Kapolres Tapanuli Tengah menyatakan bahwa proses penyidikan telah memasuki babak krusial. Identitas pihak-pihak yang paling bertanggung jawab atas penggundulan hutan di hulu sungai rencananya akan dirilis secara resmi ke publik pada pekan depan.
Menelusuri Jejak Kejahatan Ekologis
Penyelidikan ini bermula dari analisis lapangan pasca-bencana yang menemukan indikasi kuat bahwa banjir bukan sekadar fenomena alam biasa. Ditemukan banyak sisa gelondongan kayu dengan potongan rapi di aliran sungai, yang mempertegas dugaan adanya aktivitas penebangan pohon secara masif dan sistematis di kawasan hutan lindung.
”Kami tidak hanya menyasar pelaku di lapangan, tetapi juga mendalami intelektual dibalik aktivitas yang merusak ruang hidup masyarakat ini,” ujar perwakilan Polres Tapteng dalam keterangan terbarunya.
Fakta-Fakta Kunci Penyelidikan:
- Penyebab Bencana: Penggundulan hutan di area resapan air mengakibatkan tanah tidak mampu menahan debit hujan tinggi, memicu longsor dan banjir bandang.
- Target Tersangka: Polisi tengah membidik aktor intelektual dan koordinator lapangan yang memfasilitasi distribusi kayu ilegal.
- Target Waktu: Pengumuman nama tersangka dijadwalkan pada minggu kedua bulan ini setelah sinkronisasi alat bukti dan keterangan saksi ahli rampung.
Komitmen Penegakan Hukum
Langkah tegas kepolisian ini menjadi ujian penting bagi penegakan hukum lingkungan di Sumatera Utara. Masyarakat sipil dan aktivis lingkungan mendesak agar proses ini tidak berhenti pada “pemain kecil”, melainkan mampu menyentuh korporasi atau oknum yang selama ini menikmati keuntungan dari bisnis kayu ilegal tersebut.
Penetapan tersangka pekan depan diharapkan menjadi momentum pemulihan ekosistem Tapteng sekaligus memberikan efek jera terhadap para perusak hutan yang telah merugikan ribuan warga terdampak bencana. (Red)





















