Gennus.id | Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dicecar soal nasib makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak dikonsumsi siswa. Pertanyaan itu disampaikan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDIP Charles Honoris dalam RDP Komisi IX.
“Kalau misalnya orang tua tidak mengizinkan anaknya untuk mengonsumsi, lalu sisa makanannya, makannya akan dibuat apa? Apakah dikembalikan? Dibuang atau seperti apa? Karena tidak dikonsumsi,” kata Charles.
Ia juga mencontohkan jika 40 persen siswa menolak dan 60 persen mengonsumsi MBG, lalu mempertanyakan jumlah porsi yang dikirim.
Menanggapi hal tersebut, Sudaryono mengatakan untuk sekolah negeri berlaku mekanisme “iya semua atau tidak semua”.
”Sampai saat ini Pak Charles, sekolah itu. Kalau sekolah negeri itu harus iya. Iya semua. Manakala tidak, tidak semua,” kata Sudaryono.
Ia menegaskan tidak mungkin dalam satu sekolah sebagian siswa mendapat MBG sementara lainnya tidak.
“Karena kalau ini kan masalah, memang kita terkait itu ya, memang ada satu dua. Misalnya kalau sejauh ini Pak Charles, itu adalah keputusannya adalah saya sampaikan, iya iya semua dan tidak, tidak semua,” ucapnya.
Sudaryono juga mengatakan MBG bukan sekadar persoalan suka atau tidak suka.
“Tidak mungkin dalam satu sekolah itu, kemudian ada satu dua yang temannya makan, kemudian dia tidak makan sendiri atau temannya tidak makan, dia makan sendiri,” ujarnya.
“Itu saya kita-kita juga kita harus arif dalam pendidikan ini. Bukan hanya suka atau tidak suka,” terangnya.
Sementara itu, BGN menyebut 1.653 sekolah telah dicoret dari daftar penerima MBG, dengan layanan lebih diarahkan kepada kelompok yang membutuhkan, termasuk wilayah 3T.
(Rls/Red)





















